Feed on
Posts
Comments

Setelah mendengar curhatan teman saia, Ruth yg selama sebulan ini tumbuh dan berkembang di Jakarta……..
Saia punya pertanyaan nih teman2,
“Kenapa orang Jakarta selalu merasa bukan orang Jawa dan menyebut orang yg berasal dari kota lain selain mereka yg berlokasi di Pulau Jawa sebagai orang Jawa?”

Jadi, begini cerita Ruth pada saia……
Hari pertama, pas dia ada acara perkenalan di kantornya…….
Dia dikenalkan sebagai “Ruth, anak Unair.”
Eh, pas ketemu sesama orang Surabaya ada statement, “Ini nih si X, sama2 orang Jawa.”
Lha, teman saia bingung sendiri jadinya……
Terus, situ orang mana kalo bukan orang Jawa?

Hari2 berikutnya malah makin sering……
Pernah nih dia naik taksi….
Nah, di dalam taksi dia telpon2an sama saia……
Eh, pas dia nutup telpon, si abang tukang taksi sok ramah dan ngajak ngomong,
“Mbak dari Jawa ya? Dari logatnya keliatan deh.”
Teman saia pun makin merasa absurd……

Dari cerita Ruth itu, saia pun mikir sejenak dan mulai membuat analisis tentang Jakarta………
Ada 2 segi yg saia analisis, yaitu segi geografis dan segi sosio-geografis………

Pertama, mari kita analisis dari segi geografis…….
Bukankah Jakarta itu adalah bagian dari Jawa ya?
I mean Jakarta is Capital City, not Capital Island…….
So, Jakarta is techically part of Java…….
Ini menurut saia sama bodohnya dengan menyebut Indonesia as a city…..
Lalu, kenapa mereka ngaku2 bukan orang Jawa, tapi orang Jakarta?
Aneh!

Kedua, mari kita analisis dari segi sosio-geografis……
Sebagai provinsi sekaligus kota terbesar dengan luas 740, 28 km persegi……..
Luas Jakarta bahkan 3x lipat dari luas kota Surabaya yg hanya 274, 06 km persegi yg notabene kota terbesar kedua di Indonesia…..
Dengan luas sebegitu, penduduk Jakarta tentunya berkali-kali lipat lebih banyak dari kota2 lain……
Dengan penduduk yg membludak, Jakarta bertransformasi jadi pusat informasi, pusat edukasi, dan pusat karir………
Cuma survival sejati yg bisa bertahan disana…..
Siapapun yg gak kuat pasti tertendang keluar dengan sendirinya……
Faktor ini bikin penduduk Jakarta jadi merasa lebih dari yg lain dan nyata2 gak mau disamakan sama penduduk kota lain……….
Manusiawi juga ketika seseorang punya achievement lebih, dia minta dianggap lebih……
Dalam hal ini, penduduk Jakarta memilih untuk tidak mensejajarkan dirinya dengan penduduk kota2 lain…..
Tapi, bikin kata2 sendiri…….
Mereka bukan orang Jawa biasa, mereka orang Jakarta.

Secara pribadi, teman saia nggak merasa bermasalah dengan itu semua……
Dia bangga bahwa dia orang Jawa dan nggak mau sok Jakarta cuma karena sandang pangan papannya disana….
Saia pun mendukung sikap teman saia itu……..
Jujur, saia lebih menghargai orang yg dengan bangga bilang bahwa dia orang Betawi, daripada bilang orang Jakarta…..
Lebih jauh, buat saia Jakarta itu suatu identitas kota ajah…..
Di dalam Jakarta ada orang Betawi, Jawa, Batak, Ambon, Padang, dan seterusnya……..
Sama seperti di Mojokerto ada orang Betawi, Jawa, Batak, Ambon, Padang, dan seterusnya…..

Karena alasan sama dg yg saia kemukakan di atas tadi….
Teman saia juga nggak mau berubah cara ngomong dari aku-kamu menjadi gue-elo……
Mau dianggep aneh, dia hayuk ajah……
Di kota kita, memang kita nggak ngomong dengan gue-elo dan bahasa kita adalah aku-kamu……
Dia merasa nggak perlu berubah cara ngomong demi bisa fit in di Jakarta……
Malah aneh jadinya……..

Belakangan saia dan teman saia menemukan teori lain sebenarnya……
Ngomong gue-elo gak bisa juga dijadikan tolak ukur orang itu lupa sama identitas dirinya sendiri…..
Mungkin memang itu part of language adaptation……
Sama kayak kalo kita di Perancis, mau nggak mau kita ngomong pakai bahasa mereka……
Kalo kita ngotot ngomong Indonesia, siapa yg mau denger?
Jadi, sebagian orang mungkin memutuskan untuk ganti gaya ngomong jadi gue-elo…..

Oke, teori yg masuk akal…..
Dan yg jelas untuk sekarang teman saia belum tertarik ganti gaya ngomong siyh…
Bagi dia, fit in di community gak harus dengan ganti gaya ngomong….
So, let’s we wait and see……
Hehehe…….
Buat teman2 semua, share your opinion ya………

Pagi ini saia ngakak sendiri……..
Semua ini berawal ketika saia kesal karena anjing herder saia menyalak tanpa henti……
Sudah 5 menit berlalu anjing saia masih ajah bikin ribut…..
Berniat mencari penyebabnya, saia turun ke bawah dan menemukan anjing saia sedang heboh menyalak kepada beberapa anak2 kecil berseragam yg juga dengan heboh sibuk menggoda si anjing……
Oh, digodain anak SD toh!

Saia kembali ke atas dan dengan kepala pening berusaha fokus sama proposal KKN sialan ini……..
5 menit, 10 menit, 15 menit…..
Anjing saia masih juga menyalak tanpa henti……
Mulai kumat sebelnya, saia turun lagi ke bawah dan menemukan hal yg sama……
Anak2 SD itu masih heboh menggoda anjing saia………

Merasa anak2 itu telah melakukan perbuatan yg tidak menyenangkan terhadap anjing saia, saia lapor ke papa…..
Tak disangka dan tak dinyana, papa menanggapi laporan saia dengan lebih serius dari yg saia kira…….
Papa langsung keluar dari ruang keluarga menuju garasi…..
Bukannya memasukkan anjing saia itu ke kandang biar nggak digodain, tapi papa malah memanjangkan ikatan rantai dan memindahkan rantai anjing saia itu ke pintu pagar….
Dengan begitu, memungkinkan anjing saia itu bergerak kesana kemari dan mengeluarkan kepalanya dari sela2 pagar…..
Si anjing pun bisa dengan sigap menakut-nakuti siapapun yg menggodanya plus menggigitnya kalo mau……..

Saia masih ternganga ketika melihat langkah selanjutnya yg dilakukan oleh papa……
Papa menelepon mama yg sedang belanja di supermarket untuk datang ke sekolah anak2 itu dan melaporkannya pada gurunya…..
Kata papa, kalo perlu sekolah harus mengirim surat pada murid2nya supaya nggak suka ganggu anjing orang lain…..

Herannya, usul aneh bin ajaib dari papa itu ditanggapi dengan patuh oleh mama…….
Jadi, sekarang mama sedang melaporkan anak2 itu di sekolah yg mana cuma beda beberapa blok dari rumah………..
Dan disertai ancaman lain kali kalo kejadian lagi, anjingnya dilepas ajah di dalam area rumah….
Supaya kalo ada yg kegigit, maka itu bukan salah kita….

Ya ampun……
Segitunya ya mereka melindungi anjing saia…….. :D

I still believe that there are only two groups of human being in this earth: the let it flow peoples and the must peoples.

• The first group is those who let their life go with the flow
They go to school. Graduate. Find a work. Do their work. Get a spouse. Get married. Go home at 6. Eat what they like. Get what they want. They are too simple and that is the reason why you can’t see their plan. Because they simply don’t have any! They satisfy themselves easily because their satisfaction is what they are now. These kinds of people live longer than the second one. They don’t have ‘stress’ words in their dictionary. They will accept failure. They will forgive themselves when it comes to mistakes. When they don’t get something, they will think to find another. No hard feeling of something. Like it? Take it. Don’t like it? Leave it. As simple as that. As easy as that.

• The second group is those who make their own life
They sketch. They draw. They put the color. They buy another paper. They expand the drawing. They plan. You can see them anywhere. People call them ambitious, but the truth is they are just extremely determined! All of them have set their goal properly, prepare any single step to reach the goal, and confident that they can make their goal. Well, most of them remain outstanding and achieve more than their first goal, but never really reach their goal. Why? Because they change their goal from time to time. When they near to the first goal, they will put another higher goal. When they exceed the first goal and become near to the second one, they set another one. They just don’t stop. The bad thing is they can’t tolerate failure. They can’t accept others failure, as they can’t accept their own failure.

Somehow, I considered as the member of the first group. It’s just so bad, right! I don’t have any plan. My future is still blurry. But I like it that way because thinking too much about my uncertain future will put another burden on me, while being an intern has put me into a lot of responsibilities and burdens already. I’d rather do my best in what I do now and I believe good things will come after it.

Opposite of me, one of my best friends belongs to the second group. She is full of ambitions and she can do anything to get what she wants. Lately, she is facing some personal matters. Those matters can change her life somehow. As I mentioned in my previous post, Is love still a battlefield?  http://vanypoenya.blogdetik.com/2009/12/…). She felt in love with a man. She wanted to battle in love with him, but he didn’t want to. She has done anything to attract him, but she got nothing. He just wanted to be her friend. Yeah, that’s ironic I think.

This afternoon I asked her: “Do you really love him?”. She answered: “Yes, I do love him. But, he doesn’t love me too. I realize that I don’t deserve him although we know that he is a nice guy, Van. The real problem is not in him, but there was in me. I can make plan for anything, but not for love. Because this one is unpredictable. I can’t reach my goal. I can’t force him to love me. I just try to forgive that. I can accept my failure”.

In the beginning, I mentioned that I think there are only two groups of human being. Now, I believe that there aren’t only two. I just happen to see the last group recently. The last group is the one who stands between the previous groups. They plan. They make it happen. But they forgive themselves. They can accept failure. That is exactly what my best friend is doing right now. She is seeing from the brighter side. That’s where she is now.

Well, where are you?

Minggu kemarin saia dan teman2 travelling ke Malang. Entah kenapa, saia sempat mellow dramatic sebelum pulang. Kenapa? Karena ternyata saia begitu suka dengan suasana kota ini dan teman2 saia yg ada di kota ini. Sepertinya hidup saia selama beberapa hari di Malang kemarin sungguh sangat menyenangkan.

Tadi malam saia dan Fidah, teman saia, chat di FB. Kami sempat ngobrol mengenai fenomena mellow dramatic saia dan mendadak melakukan analisis mengenai hal itu. Akhirnya setelah berbagai teori diungkapkan, kami pun mencapai suatu kesimpulan. Di kota besar, contohnya: Jakarta, Surabaya, atau kota2 besar lainnya, ketika kita bangun pagi, maka yg terpikir adalah hal2 sebagai berikut:

  1. Jam berapa sekarang? Telat nggak ya?
  2. Kira2 lewat jalan mana yg nggak macet ya?
  3. Gimana cara mempertahankan IPK-kuw semester ini ya?     (sambil melirik transkrip)
  4. Kemarin tugas2 belum sempat selesai nih. Duh, buruan bangun biar sempat ngedit deh!
  5. Hari ini ada rapat jam segini, trus mau survei ini di situ….blablabla.     (sambil baca organizer)
  6. Nanti sempat makan siang nggak ya? Makan siangnya jam berapa nih?
  7. Mati aku! Koq bahasa inggrisku makin acak adut ya?   (kedip2 dan melebarkan kuping dengerin BBC)
  8. Kapan saia punya waktu buat les perancis/ mandarin/ jepang ya? (apapun lah yg penting konsepnya 2nd language)
  9. …………………………..

Hmm. Apakah teman2 merasa familiar dengan hal2 di atas? List boleh ditambah dengan hal2 lain yg terpikir di benak teman2. Nah, hebatnya ya, orang2 yg hidup di kota kecil, contohnya: Malang, Gresik, atau di kota lain yg lebih kecil dari Surabaya berpikiran lain lowh, seperti berikut:

  1. Wah, bangun kepagian nih! Tidur lagi aahhh!
  2. Siang ini makan dimana ya? Enaknya makan malam apa?
  3. Duit berlebihan ini mau dipakai buat apa ya? Investasi atau modal usaha?
  4. Duh, IPK-kuw semester ini bagus bener!    (sambil melirik transkrip)
  5. Pas lagi bengong, trus berakhir dengan nyalain tivi dan nyetel gosip pagi
  6. Nggak melakukan semua hal di atas karena keburu bobo lagi

Anjrit!!! Saia dan Fidah pun ketawa. Seekstrim itu perbedaannya. Hidup di kota kecil itu enak lowh! Makan murah, bensin hemat, teman2 super ramah. Pokoknya, feels like heaven lah. Hahahaha. Sementara yg namanya hidup di kota besar itu persaingan tinggi, bawaannya unsecure muluw tiap hari, dan rentan stres. Pokoknya ribet deh!

Saia punya teori 80-100 siyh. Kalo di kota kecil, 80 itu udah top score. Akhirnya meskipun kita sampai nilai 100, dapat nilai 75 ajah udah bangga plus dipuja-puja. Eh, kalo di kota besar lain lagi. Toleh kiri 81, toleh kanan 81,25, toleh belakang 81,5. Pokoknya ketat abis dan top scorenya tetap 100, bahkan kalo bisa 100 atau 1000! Jadi, tiap hari yg dipikir ya itu tadi. How to make myself better today or how to improve myself! Dan baik saia maupun Fidah pernah merasakan keduanya. Hehehehe.

Duh, hidup di Surabaya ajah kayak gini! Gimana kabar Jakarta ya? Eh, gimana kehidupan di kota teman2? Bagi2 cerita ya!

Pada dasarnya bisnis adalah menyediakan apa yg dibutuhkan oleh orang lain…..
Uang adalah alat tukar paling terkenal sekaligus paling kita gemari…….
Bisnis adalah tentang uang……..
Tentang bagaimana kita mendapatkan uang dan mengupayakan uang itu tetap datang…..

Bagaimana kita mendapatkan uang?
Dengan menyediakan apa yg orang lain butuhkan……
Makin kreatif kita, maka makin besar probabilitas kita jadi unik dipasaran…….
Makin unik, makin dicari……
Makin dicari artinya makin banyak uang datang……

Lalu, pertanyaannya menjadi: Apa yg orang lain butuhkan?
Rumah, makanan, pakaian?
Basi……
Sudah terlalu banyak pelaku bisnis terjun di bidang itu…..
Entertainment?
Ini hal yg menarik untuk kita bahas…..

Let’s we talk about entertainment…….
Sebenarnya industri ini menyediakan apa ya?
Utamanya, mereka menjual jasa yaitu jasa menyenangkan orang lain…….
Banyak caranya, mulai dari musik, film, sirkus, reality show, talk show, acara gosip, dan bahkan ajang pencarian jodoh…..
All of those entertain people……

Di dunia entertainment ini saia sering mual liat sinetron yg menyediakan tayangan gak masuk akal tentang betapa jahatnya ibu tiri atau istri yg tamak…..
Atau rumitnya hidup jadi anak pejabat di rumah mewah……
Atau menyajikan tayangan keluarga yg sarapan paginya mewah banget nyaris kayak hotel……
Dalam kondisi2 tertentu, kita tentunya sering berucap: “Koq kayak sinetron ajah ya?”
Tapi, tunggu ya…..
Bukannya sinetron yg harusnya kayak kita ya?
Hahahaha…..

Di jendela yg lain coba kita perhatikan film Indonesia……
Pasca AADC film Indonesia dinyatakan telah bangkit dari tidur panjang……
Sayangnya, buat saia film Indonesia bukan cuma bangkit dari tidur panjang, tapi juga bangkit dari kubur……
Gimana nggak, perbandingan film horor dan film bermutu bisa jadi sama……
Oh come on, ini bukan lagi era Si Manis Jembatan Ancol dan tuyul gundul banci yg bersahabat dengan manusia!
Makin ke sini, pelaku bisnis ini makin menunjukkan keabsurdannya dengan menyajikan artis2 cantik berlarian kesana kemari dikejar hantu loncat2 atau setan berbagai bentuk……
Pentingkah menyajikan tayangan semacam itu?

Masih di koridor entertainment ini, Nanda, sepupu saia yg kuliah komunikasi baru ajah mendengar keluhan seseorang yg sudah lama eksis di dunia musik…..
Dia bilang, “Kenapa industri musik indonesia cenderung menyajikan tema yg itu2 ajah ya?”
Tentang pacaran, cinta, selingkuh, putus, dan seterusnya…..
Berapa banyak siyh lagu2 nasionalis?
Band Coklat punya lagu bendera and almost that’s it…….
Ada nggak band yg ngetop karena lagu2 nasionalis mereka?
Atau lagu2 yg bukan tentang cinta2an?
Mungkin jaman tahun 80-an ada, tapi di era kita sekarang ini?
Hmm, saia bukan pengamat musik Indonesia siyh…..
Tapi selama 22 tahun saia hidup, seingat saia gak pernah ada band Indonesia yg ngetop murni karena tema2 sosial, tema nasionalis, atau tema apapun selain cinta….
Oke, mungkin kita punya Mas Iwan Fals atau Slank…..
Tapi, coba sebutkan 5 musisi paling ngetop saat ini……
Lalu, hitung berapa di antara mereka yg ngetop bukan karena lagu cinta2an?
Gak ada…..
Huhuhuhuw…..
Peterpan, Ungu, ST 12, Nidji, D’Masiv?
Lulusan Indonesian Idol?
Semua tentang cinta…….

Dengan semua itu, saia jadi berpikir….
Apakah memang ini yg kita suka atau pelaku bisnis membuat kita berpikir bahwa ini yg kita suka ya?

Kembali ke konsep bisnis bahwa pelaku bisnis menyediakan apa yg dibutuhkan orang lain…..
Apakah benar sajian sinetron itu menghibur?
Apakah benar kita butuh dihibur oleh lagu2 sejenis yg cengeng sepanjang masa?
Jawabannya bisa kontradiksi siyh…..
Tapi, jawaban saia tegas: ENGGAK

Absolutely, entertainment isn’t education…….
Tapi, bukan berarti hal itu buat kita jadi bego…..
Iya nggak?
Kalo tayangan di tv cuma menyajikan hal2 yg gak penting seperti sinetron dan musik2 murah yg makin norak makin digemari ini, kita nggak akan ke mana2…..

In my opinion, entertainment should educate people in a very smooth ways……
Di industri Indonesia, bukannya gak ada chance untuk membuat yg kayak begini…..
Masih ingat sinetron Keluarga Cemara?
Saia sempat berada di jaman itu dan sambil nonton saia belajar tentang kesederhanaan dan bagaimana kita mesti berbagi…..
Saia masih ingat ada film 9 Naga yg mengajarkan tentang persahabatan dan kesetiaan……
Saia masih ingat Kikan Coklat pernah bikin album khusus dengan aransemen baru dari lagu2 nasionalis……
Lagu merah putih nggak harus didengarkan cuma di lapangan upacara, tapi bisa sambil menikmati macet di mobil……

After all…..
Saia kepengen ngasih challenge sama pelaku2 di bidang entertainment ini……
I think enough is enough……

Ayo dong kita sama2 bikin sesuatu yg mengedukasi……
Beberapa stasiun TV mulai mengedepankan talkshow2 dengan host masing2……
Nice try, but it’s not a breakthrough……
Misinya nggak dapet…..
Saia pernah baca di suatu majalah…..
Ketika Dewi Lestari dapat kesempatan bicara tentang kemirisannya terhadap Global Warming di salah satu talkshow…..
Total waktu dia share pengetahuannya lebih sedikit dibanding total commercial break…..

Ayo dong kita sama2 bikin sesuatu yg gak cuma menghibur, tapi juga mengisi otak……
Saia bukan pelaku bisnis di industri ini dan saia gak punya pengetahuan cukup untuk mengomentari ini itu……
Tapi sebagai orang Indonesia, saia miris dengan kondisi ini…..
Saia juga nggak dalam kapasitas untuk berbuat sesuatu, kecuali nulis……
Semoga ada pelaku bisnis yg baca tulisan ini dan kepikiran sesuatu yg kreatif……
Sesuatu selain sampah di sinetron kebanyakan…..
Sesuatu selain musik2 murah…….
Dan selain uang di atas segalanya…..

Ketika pelaku bisnis bisa membuat orang merasa perlu punya Ipod, merasa perlu minuman isotonik, merasa perlu Google, merasa perlu belajar bahasa asing……
Lalu, kenapa pelaku bisnis nggak membuat orang merasa haus akan pengetahuan dan hiburan di saat yg sama?
Kenapa pelaku bisnis nggak mengkondisikan entertainment lebih dari sesuatu yg asal dijual dan jadi duit menjadi sesuatu yg berisi untuk semua?

Untuk saia……
Untuk anda……
Untuk teman2 semua yg selama ini terbuai sama hiburan yg gak menghibur atau gak mendidik…..
We deserve something better than this :)

Hmmmfffhhh……
Saia baru saja menghembuskan nafas panjang….
Minggu ini beberapa beban sudah terbang dari kedua pundak saia…..
Satu-persatu burung pressure saia sudah punya sayap yg cukup kuat untuk berangkat lepas landas….
Meninggalkan saia yg merasa jauh lebih ringan.

Biarpun sekarang merasa kelelahan, saia senang….
Tiga burung pressure berjenis ujian akhirnya sudah terbang………..
Yah, beberapa jam lalu tiga mata ujian akhir semester sudah selesai……
Selain itu, beberapa hari yg lalu mata ujian yg lainnya juga sudah usai.

Sekarang saia sudah agak bisa menarik nafas panjang……..
Tinggal satu burung pressure bernama kuliah kerja nyata yg belum siap terbang……
Bulan depan nanti, semoga dia sudah punya sayap yg cukup kuat agar bisa terbang dari pundak saia cepat2.

Pfiuh….
Masih ada 2 burung pressure lagi yg baru saia ketahui bahwa mereka juga sudah terbang.

Burung pertama adalah seseorang yg dulu menjadi uncertainty saia….
Seseorang yg mengajarkan pada saia bahwa cinta tidak bisa dihitung dengan logika matematika
Saia baru sadar kalo kami sudah cukup lama tidak bertemu dan dia sudah tidak pernah lagi menghubungi saia…..
Saia sudah bisa menerima bahwa dia sedang dekat dengan orang lain di sana….
Jadi, hubungan kami hanya sebatas teman biasa….
Ini berarti sekarang dia sudah jadi hebat…..
Sudah punya sayap yg mampu membuat kepakan kuat agar terbang ke lain tempat…..
Saia ikut senang….
Saia ikut merasa ringan.

Burung kedua juga sudah terbang…..
Saia sudah dengan sukses tidak lagi memikirkan dia yg pernah menjadi Peter Pan saia….
Dia yg pernah mengajak saia kembali ke Neverland….
Khusus burung yg ini, saia melatih dia untuk menguatkan sayapnya agar cepat2 melayang dari pundak saia…..
Butuh kerja keras untuk membuat burung pressure yg satu ini terbang…..
Untungnya, sekarang sudah lepas landas….
Semoga tidak kembali.

Saia tahu kalo burung2 pressure yg lain sudah siap mengintai…..
Tapi, biarkan saja mereka mampir…..
Toh, saia juga butuh gelombang dalam hidup…..
Masa iya, saia mau surfing di Pantai Kenjeran yg adem ayem?
Masa iya, selamanya saia mau hidup santai2 muluw?
Bisa2 hidup saia jadi hambar2 pisang nantinya. :D

This is another crap story about my love life….
Buat teman2 yg gak tertarik, gak perlu dibaca ya…………..
It’s still crap!

Beberapa jam yg lalu saia baru dapat pertanyaan dari Linda, teman saia……
Dia bertanya, “Apa yg kamu lakukan pada kenangan yg memaksa untuk terus diingat, Van?”
Saia rada kaget juga dapat pertanyaan kayak gitu……..
Tapi, hal itu sedang terjadi sama saia siyh……..
Belakangan ini orang2 lama muncul lagi dan membawa apa yg kita sebut kenangan, dan so far saia menjadi sangat terharu…..
Huhuhuhuw……… (sentimentil mode on)

Saia tidak pernah tau bahwa ada orang2 yg menyayangi saia dengan sebegitunya……….
Dan saia tidak pernah tau kalo saia menyakiti orang2 dengan sebegitunya…..
In my mind set: shit happen, but life goes on.
Tapi ternyata, ada orang2 yg tidak menganut asas itu dan karena saia mereka jadi jatuh……
For your information, saat mereka jatuh saia tidak tahu…………… (sigh)

Duh, koq saia benar2 jahat ya?
Hehehehe……

Oke, kita kembali ke pertanyaan Linda tadi……
“Apa yg kamu lakukan pada kenangan yg memaksa untuk terus diingat?”
My answer is: mengambil kotak, memasukkannya ke dalam, dan menyimpannya di dalam lemari karena berjalan adalah selalu ke depan, bukan ke belakang.

*cheers*

PS: Happy New Year for all. Semoga tahun 2010 nanti akan menjadi tahun yg lebih baik dari tahun2 sebelumnya.

X : What’s your opinion about lady’s intended first? Do you agree or disagree?
Y : Men have the right to choose and women have the right to determine. According to some women, they also have the right to choose, on which I don’t quite agree. Nothing to determine if he doesn’t choose you. Why should you give a damn about it? Anyway, women’s right to choose could mislead them being undervalued. That’s where my disagreement comes from.
(Conversation between X and Y, both of them are friends of mine in the campus this morning)

Well, I used to believe that love is a battlefield……..
But now…..
I don’t think so…..
Even this world seems so modern and so damn globalize…..
But in fact, love still about choose and be chosen…..
Even this world strike up about emancipation……
In fact, women still loose their right to choose…..

Look for this scheme:
Man: Search for a woman –> find some interesting women –> making a call, arranging a date, giving something, caring –> saying the magic word –> having a woman
Woman: waiting –> waiting –> waiting –> waiting

See?
I used to think that a woman has the same right with a man……
But, I’ve seen many stupid facts……
And I realized………..
Love isn’t a battlefield for a woman….

So, what’s on your mind?

Selama seminggu kemarin, saia dan gandes, one of my best friends magang di sebuah kantor perusahaan…..
Di tempat magang kita sekarang ini, kita mendapatkan ruangan yg berbatasan dengan ibu2 sekretaris…….
Menyenangkan sebenarnya karena tiap pagi mereka datang jam 8 dan kita jadi menemukan teman ngobrol di pagi hari…….
Dan sekaligus bisa mendengarkan pembicaraan ibu2 berkarir di sebelah kita yg ternyata sayang anak.

Ibu sebelah kanan kita ternyata memiliki anak yg baru pindah SD….
Kerennya nih, si Ibu mengecek anaknya setiap hari……
Ngeceknya juga gak tanggung2 bok!
Ditelepon ke rumah…..
Kalo anaknya belum pulang, telepon gurunya di sekolah…..
Dan terakhir telpon anaknya……
Buat ngecek anaknya udah makan atau belum….
Di sekolah tadi ngapain ajah….
Kasih tau ada brownies di kulkas…..
Terus, memastikan anaknya cuci tangan dulu atau nggak sebelum makan……
Setelah itu kalo anaknya sudah tidur siang, si ibu menelepon pembantu di rumah itu untuk cek & ricek apakah keterangan anaknya itu benar atau nggak….
Ccckkkk!

Ibu di depan kita memiliki anak yg baru masuk SMP……
Di SMP barunya ini si anak ternyata belum punya teman karena dia memilih SMP yg berbeda dari teman2nya semasa SD…..
Kemudian, terungkaplah kalo si anak ini pergi ke sekolah naik angkot…..
Dan setiap hari ibunya ngecek apa anaknya sudah naik angkot atau belum…
Terus, tentunya juga ngecek si anak udah makan nasi goreng atau belum…..
Udah makan buah di kulkas atau belum…….
Dan seterusnya…..
Astaganaga!

Lalu saia dan Gandes pun ngobrol2,
“Ya ampun, koq sampai segitunya ya, Van?”
“Namanya juga seorang ibu, Ndes. Mereka pasti khawatir ama keadaan anaknya selama ditinggal mereka kerja.”
“Iya juga siyh. Apalagi ibunya kan wanita karir ya, Van.”

Saia jadi ingat jaman saia kecil dulu….
Pas di kantor, mama saia selalu bolak-balik telepon saia dan telepon pembantu yg ada di rumah….
Waktu itu saia ngerasanya bukan disayang, malah berasa kayak diteror siyh…..
Ditelepon muluw…..
Masih mending kalo hal yg ditanyain itu penting (hehehehe)
Tapi, ternyata benar kata orang…..
Kita baru bisa mengerti susahnya jadi orang tua setelah kita beranjak dewasa….
Iya nggak?

Hmmmmm…………
Saia cuma mikir ajah siyh…….
Nanti kalo seandainya saia kerja, terus punya anak……….
Kira2 saia sempat atau nggak telepon anak saia buat nanya hal2 begituan ya?
Hal2 yg kesannya sepele, tapi meaningful banget.

Saia pernah baca di salah satu majalah…..
Kalo Marcell dan Dee memeluk anaknya sepuluh kali sehari……
Yah, sayangnya mereka akhirnya cerai siyh…
Tapi, saia jadi pengen mencontek mereka….
Saia mau memeluk anak saia sepuluh kali sehari nanti……
Dan (ehm) memeluk bapaknya juga deh :mrgreen:

Last….
Apa pendapat teman2 tentang wanita karir?
Benarkah kalo ibu rumah tangga lebih baik daripada ibu yg berkarir?
Benarkah pendapat yg menyebutkan bahwa ibu berkarir kurang perhatian terhadap anak2nya?
Feel free to share your opinion!

Beberapa hari yg lalu Bunga, my partner in crime, cerita ke saia kalo bulan depan KTP-nya sudah kadaluarsa………
Entah kenapa setelah mendengar ceritanya tiba2 saia kepikiran sesuatu……
Yah, sebelumnya tolong dimaafkan kalo hal yg saia pikirkan ini rada nggak penting siyh……
Atau kalo teman2 ada yg tau jawabannya, tolong dijawab ya…….

“Kenapa ada kolom isian tentang agama di KTP?”

Saia rada nggak ngerti nih……
Apa sebegitu pentingnya ada kolom isian tentang agama di KTP?
Apakah kemudian ada perbedaan antara si Islam dan si Kristen?
Apakah si Budha boleh ke sini dan si Hindu gak boleh ke situ?
Atau apakah ada alasan lainnya?
Kenapa?

Kalo melihat redaksionalnya, Kartu Tanda Penduduk artinya kartu yg menyatakan bahwa pemilik kartu tersebut adalah penduduk wilayah setempat……
Berdasarkan hal itu, maka seharusnya yg ada di dalam kartu tersebut adalah identitas mendasar yg harus diketahui ketika seseorang dinyatakan sebagai penduduk…..
Nomor Kartu, ini yg paling penting ya…….
Nama, secara rasional jelas penting……
Alamat, ini juga penting karena kita perlu tau penduduk ini tinggal dimana………..
Golongan darah, penting juga karena kalo misalnya ada kecelakaan kan bisa ketauan langsung golongan darahnya dia apa………
Tapi, kalo agama?
Koq ini rada2 nggak masuk ya?

Saia jadi ingat pengalaman saia waktu menemani Prisma, teman saia mengisi formulir di sebuah klinik kecantikan waktu pertama kali dia melakukan perawatan di sana…….
Pertanyaannya aneh2, tapi lazim juga mengingat mereka pengen tau kondisi calon kliennya itu…………….
Apakah teman saia bermasalah dengan jerawat?
Pernahkah perawatan di dokter?
Kalo iya, dokter mana?
Merek sabun mukanya apa?
Dan seterusnya…………
Yah, pertanyaanya masih nyambung dengan klinik kecantikan siyh……..
Eh, ternyata makin ke bawah kita kaget lagi karena di personal information ada kolom isian tentang agama……
Nah lowh…..
Memangnya apa hubungan antara agama, facial, dan peeling?

Waktu itu mungkin keisengan kita lagi kumat atau gimana……
Kita langsung nanya ke mbak2 resepsionisnya…..
“Mbak, kenapa ada kolom isian tentang agama disini?”
Dan waktu itu dengan senyum manis luar biasa, si mbak menjawab dengan anggun….
“Oh, itu buat data ajah. Dipakainya pas kayak gini, Mbak. Sekarang kan bulan puasa. Kalo mbaknya muslim, kita tanya puasa atau nggak. Kalo puasa kan kita bisa nggak menyediakan welcome drink.”
Hmm, rasional juga siyh……..
Kita pun manggut2 senang….

Lalu, saia jadi ingat pengalaman papa saia………
Mendadak papa dapat kiriman kalender tahun baru cina dari salah satu bank……
Papa heboh sendiri karena merasa bukan etnis Tionghoa, tapi kenapa dikasih kalender cina……..
Waktu itu papa bilang,
“Harusnya ada isian supaya papa bisa menulis papa orang Jawa. Kalo papa dapat kalender pon wage kliwon kan lumayan daripada kalender ginian yg nggak berguna.”
Eh, no offense ya…..
Ini sama sekali nggak bermaksud rasis lowh……….
Maksudnya papa saia itu siyh…..
Kalo kita dapat kalender pon wage kliwon kan bisa dipake menghitung hitung2an Jawa…..
Hehehehe………..

Lanjut……
Pengalaman papa saia tadi masuk akal siyh………
Terus, saia kaitkan lagi sama membership2…………
Biasanya club membership memang mengirim selamat lebaran, selamat natal, dan sebagainya…………..
Mungkin di awal pendataan dulu juga ada kolom isian tentang agama supaya mereka tahu anggotanya harus dikasih kiriman kartu apa………

Sekarang kita balik lagi ke KTP…….
Saia tetap nggak menemukan rasionalisasinya…….
Klinik kecantikan oke…..
Urusan Perbankan dan Club Membership oke juga……
Tapi kalo untuk kartu tanda penduduk, kenapa harus ada kolom isian tentang agama ya?
Ada yg bisa bantu saia?

Older Posts »