Setelah mendengar curhatan teman saia, Ruth yg selama sebulan ini tumbuh dan berkembang di Jakarta……..
Saia punya pertanyaan nih teman2,
“Kenapa orang Jakarta selalu merasa bukan orang Jawa dan menyebut orang yg berasal dari kota lain selain mereka yg berlokasi di Pulau Jawa sebagai orang Jawa?”
Jadi, begini cerita Ruth pada saia……
Hari pertama, pas dia ada acara perkenalan di kantornya…….
Dia dikenalkan sebagai “Ruth, anak Unair.”
Eh, pas ketemu sesama orang Surabaya ada statement, “Ini nih si X, sama2 orang Jawa.”
Lha, teman saia bingung sendiri jadinya……
Terus, situ orang mana kalo bukan orang Jawa?
Hari2 berikutnya malah makin sering……
Pernah nih dia naik taksi….
Nah, di dalam taksi dia telpon2an sama saia……
Eh, pas dia nutup telpon, si abang tukang taksi sok ramah dan ngajak ngomong,
“Mbak dari Jawa ya? Dari logatnya keliatan deh.”
Teman saia pun makin merasa absurd……
Dari cerita Ruth itu, saia pun mikir sejenak dan mulai membuat analisis tentang Jakarta………
Ada 2 segi yg saia analisis, yaitu segi geografis dan segi sosio-geografis………
Pertama, mari kita analisis dari segi geografis…….
Bukankah Jakarta itu adalah bagian dari Jawa ya?
I mean Jakarta is Capital City, not Capital Island…….
So, Jakarta is techically part of Java…….
Ini menurut saia sama bodohnya dengan menyebut Indonesia as a city…..
Lalu, kenapa mereka ngaku2 bukan orang Jawa, tapi orang Jakarta?
Aneh!
Kedua, mari kita analisis dari segi sosio-geografis……
Sebagai provinsi sekaligus kota terbesar dengan luas 740, 28 km persegi……..
Luas Jakarta bahkan 3x lipat dari luas kota Surabaya yg hanya 274, 06 km persegi yg notabene kota terbesar kedua di Indonesia…..
Dengan luas sebegitu, penduduk Jakarta tentunya berkali-kali lipat lebih banyak dari kota2 lain……
Dengan penduduk yg membludak, Jakarta bertransformasi jadi pusat informasi, pusat edukasi, dan pusat karir………
Cuma survival sejati yg bisa bertahan disana…..
Siapapun yg gak kuat pasti tertendang keluar dengan sendirinya……
Faktor ini bikin penduduk Jakarta jadi merasa lebih dari yg lain dan nyata2 gak mau disamakan sama penduduk kota lain……….
Manusiawi juga ketika seseorang punya achievement lebih, dia minta dianggap lebih……
Dalam hal ini, penduduk Jakarta memilih untuk tidak mensejajarkan dirinya dengan penduduk kota2 lain…..
Tapi, bikin kata2 sendiri…….
Mereka bukan orang Jawa biasa, mereka orang Jakarta.
Secara pribadi, teman saia nggak merasa bermasalah dengan itu semua……
Dia bangga bahwa dia orang Jawa dan nggak mau sok Jakarta cuma karena sandang pangan papannya disana….
Saia pun mendukung sikap teman saia itu……..
Jujur, saia lebih menghargai orang yg dengan bangga bilang bahwa dia orang Betawi, daripada bilang orang Jakarta…..
Lebih jauh, buat saia Jakarta itu suatu identitas kota ajah…..
Di dalam Jakarta ada orang Betawi, Jawa, Batak, Ambon, Padang, dan seterusnya……..
Sama seperti di Mojokerto ada orang Betawi, Jawa, Batak, Ambon, Padang, dan seterusnya…..
Karena alasan sama dg yg saia kemukakan di atas tadi….
Teman saia juga nggak mau berubah cara ngomong dari aku-kamu menjadi gue-elo……
Mau dianggep aneh, dia hayuk ajah……
Di kota kita, memang kita nggak ngomong dengan gue-elo dan bahasa kita adalah aku-kamu……
Dia merasa nggak perlu berubah cara ngomong demi bisa fit in di Jakarta……
Malah aneh jadinya……..
Belakangan saia dan teman saia menemukan teori lain sebenarnya……
Ngomong gue-elo gak bisa juga dijadikan tolak ukur orang itu lupa sama identitas dirinya sendiri…..
Mungkin memang itu part of language adaptation……
Sama kayak kalo kita di Perancis, mau nggak mau kita ngomong pakai bahasa mereka……
Kalo kita ngotot ngomong Indonesia, siapa yg mau denger?
Jadi, sebagian orang mungkin memutuskan untuk ganti gaya ngomong jadi gue-elo…..
Oke, teori yg masuk akal…..
Dan yg jelas untuk sekarang teman saia belum tertarik ganti gaya ngomong siyh…
Bagi dia, fit in di community gak harus dengan ganti gaya ngomong….
So, let’s we wait and see……
Hehehe…….
Buat teman2 semua, share your opinion ya………
Posted in budaya, curhat | 47 Comments »
